Ntvnews.id, Jakarta - Ledakan kemarahan mewarnai pernyataan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, yang secara gamblang menumpahkan kekesalannya terhadap serangan militer AS ke Iran.
Ia menuduh langkah tersebut tidak lain hanyalah upaya memaksa perubahan rezim dan menyalahkan rival politiknya, Donald Trump, sebagai biang dari keterlibatan rakyat Amerika dalam perang yang menurutnya sama sekali tidak mereka kehendaki. Meluapkan kejengkelannya di akun X, Harris menegaskan sikap kerasnya terhadap operasi militer itu.
“Izinkan saya memperjelas. Saya menentang perang perubahan rezim di Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang pilihan Trump,” tulisnya, sebagaimana diberitakan The Hill pada Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Iran Lancarkan Gelombang Serangan ke-9 ke Israel-AS di Timur Tengah
Harris tak berhenti pada kecaman tersebut. Ia menggambarkan agresi yang dipimpin Trump sebagai langkah yang penuh risiko dan tidak diperlukan, seraya membongkar rekam jejak digital lawannya semasa kampanye Pilpres 2024.
Menurutnya, Trump berulang kali menebar janji palsu, termasuk saat mengklaim akan mengakhiri perang, bukan memulai yang baru. Kritik itu makin menajam ketika Harris mengutip salah satu klaim Trump di masa lalu.
“Kemudian tahun lalu, dia berkata, ‘Kita telah menghancurkan’ program nuklir Iran. Itu juga bohong,” ujarnya.
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, Harris menyampaikan bahwa ia dan mantan suaminya, Doug Emhoff, tetap memanjatkan doa bagi keselamatan para prajurit pria dan wanita AS yang berada di garis depan.
Baca Juga: Kapolri Sampaikan Dukacita Atas Wafatnya Wapres Ke-6 Try Sutrisno
Namun, pernyataan simpatinya itu langsung dibarengi peringatan keras: menurutnya, para prajurit tersebut layak dipimpin seorang Panglima Tertinggi yang mampu membuat keputusan perang dan perdamaian secara tegas dan disiplin, sesuatu yang ia nilai tidak hadir dalam kepemimpinan Trump.
Lebih lanjut, Harris memberi label tegas terhadap operasi militer itu sebagai tindakan yang “tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika.” Ia menyoroti satu hal yang sangat ia kecam, serangan tersebut dilakukan tanpa persetujuan Kongres, sebuah pelanggaran serius menurutnya.
Harris menutup pernyataannya dengan tekanan yang sama kerasnya sejak awal. Menurutnya, negara tidak boleh terseret lebih jauh dalam konflik akibat keputusan sepihak Trump.
“Tidak ada keraguan dalam penentangan kami terhadap perang pilihan Donald Trump, dan Kongres harus menggunakan semua kekuatan yang tersedia untuk mencegahnya lebih jauh melibatkan kita dalam konflik ini,” tegasnya.
Donald Trump dan Kamala Harris. (Antara)