FBI Peringatkan Potensi Serangan Drone Iran di California

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 14:23
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi petugas FBI bergerak melakukan penyelidikan. /ANTARA/Anadolu/py Ilustrasi petugas FBI bergerak melakukan penyelidikan. /ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Federal Bureau of Investigation (FBI) memperingatkan aparat penegak hukum di California, Amerika Serikat, mengenai kemungkinan serangan drone balasan yang diduga direncanakan oleh Iran. Demikian dilaporkan ABC News pada Rabu, 11 Maret 2026 waktu setempat.

Menurut laporan tersebut, peringatan itu berasal dari informasi intelijen yang dibagikan kepada sejumlah departemen kepolisian pada akhir Februari.

"Kami baru-baru ini memperoleh informasi bahwa pada awal Februari 2026, Iran diduga berencana menyerang dengan drone dari kapal tak dikenal di lepas pantai AS, khususnya terhadap target yang tidak ditentukan di California, jika AS menyerang Iran," menurut peringatan yang dibagikan ke departemen kepolisian akhir Februari.

Peringatan itu muncul bertepatan dengan dimulainya operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sebagaimana disebutkan dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Perang Iran vs AS-Israel Memanas, IEA Banjiri 400 Juta Barel Minyak ke Pasar

Meski demikian, FBI menyatakan belum memiliki informasi tambahan terkait waktu, metode, target, maupun pihak yang kemungkinan terlibat dalam potensi serangan tersebut.

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa di kalangan warga sipil.

Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

AS dan Israel pada awalnya menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah "pencegahan" terhadap ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun kemudian keduanya juga menyampaikan bahwa tujuan operasi tersebut berkaitan dengan perubahan kekuasaan di Iran.

Baca Juga: Dokumen FBI Ungkap Trump Pernah Akui “Semua Orang Tahu” Perilaku Epstein

Dalam perkembangan lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer yang dilakukan AS dan Israel, serta menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan secepatnya.

(Sumber: Antara)

x|close