Ntvnews.id, Jakarta - Kemacetan ekstrem di Pelabuhan Gilimanuk pada Minggu, 15 Maret 2026, mengungkap persoalan utama yang memicu antrean panjang hingga 31 kilometer, bahkan mencapai Kecamatan Negara.
Lonjakan kendaraan yang didominasi mobil pribadi, sepeda motor, dan angkutan logistik menuju Pelabuhan Ketapang tidak mampu diimbangi dengan kapasitas pelabuhan. Kondisi ini diperparah oleh penuhnya kantong parkir di dalam area pelabuhan sejak siang hari, sehingga kendaraan tidak bisa lagi masuk dan terpaksa mengantre jauh di luar kawasan.
Tekanan terhadap sistem penyeberangan semakin meningkat karena waktu mudik Lebaran berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Penutupan pelabuhan untuk Nyepi mendorong masyarakat keluar Bali lebih awal secara bersamaan, menciptakan lonjakan volume kendaraan dalam waktu singkat.
Baca Juga: Apple Tingkatkan Pesanan Layar iPhone Lipat hingga 20 Juta Unit
Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, menjelaskan situasi tersebut secara langsung. Ia menyatakan, kemacetan horor ini terjadi karena kapasitas Pelabuhan Gilimanuk tak mampu menampung peningkatan volume penumpang dan kendaraan.
Ia juga menegaskan bahwa peningkatan arus terjadi karena momentum dua hari besar yang berdekatan, sehingga masyarakat memilih berangkat sebelum pelabuhan ditutup.
Dampak dari kepadatan ini terasa langsung di lapangan. Sebanyak 16 pemudik dilaporkan pingsan akibat kelelahan setelah menunggu lama di tengah antrean dan cuaca panas. Tim medis dari Dokkes Polres Jembrana pun dikerahkan untuk memberikan penanganan darurat di lokasi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kemacetan bukan hanya dipicu oleh tingginya jumlah kendaraan, tetapi juga oleh keterbatasan kapasitas pelabuhan yang tidak mampu mengakomodasi lonjakan mendadak dalam periode krusial.
Antrean kendraan pemudik di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. (Antara)