Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Maluku menyatakan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah belum terlihat di wilayah Maluku berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Negeri Wakasihu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis.
“Hasil rukyatul hilal menunjukkan ketinggian hilal masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS),” kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Maluku Yamin di Ambon, 29 Maret 2026.
Menurut hasil pengamatan tinggi hilal tercatat sekitar 1,528 derajat dengan elongasi 4,26 derajat. Angka ini masih jauh di bawah kriteria MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar hilal dapat terlihat.
Dari hasil pantauan, tinggi hilal tercatat sekitar 1,528 derajat dengan elongasi 4,26 derajat. Angka ini masih jauh di bawah kriteria MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar hilal dapat terlihat.
"Kalau dilihat dari ketinggian hilal dan elongasi yang ada, maka dapat disimpulkan hilal tidak bisa terlihat di Maluku pada saat ini,” sahutnya.
Adapun Koordinator Observasi BMKG Stasiun Geofisika Ambon Riyan Haurissa menambahkan secara hisab posisi hilal memang belum memenuhi kriteria visibilitas.
“Dengan ketinggian sekitar 1,5 derajat, elongasi sekitar 4 derajat, dan umur bulan sekitar 8 jam, potensinya sangat kecil untuk terlihat, bahkan hampir mustahil,” katanya.
Lebih lanjut, Kanwil Kemenag Maluku menyatakan keputusan akhir penetapan Hari Raya Idul Fitri tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar Kemenag RI pada malam hari ini.
Arsip foto - Petugas memantau penampakan hilal untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Jami Al-Musari'in Basmol, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Tim Hisab Rukyat Masjid Basmol menyatakan hasil pengamatan di lokasi tersebut hilal tidak terl (Antara)