Ntvnews.id, Washington - Pemimpin Minoritas Demokrat Senat Amerika Serikat Chuck Schumer menyebut warga AS mulai mengurangi konsumsi makanan akibat lonjakan harga yang dipicu ketegangan geopolitik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Schumer sebagai respons terhadap laporan media yang menyebut masyarakat Amerika kini menekan pengeluaran, termasuk belanja bahan pangan, untuk menutupi kenaikan biaya energi.
"Warga Amerika sudah melewatkan makan akibat perang sembrono di Iran yang sengaja dipilih oleh (Presiden AS Donald) Trump, dan ini hanya contoh lain bagaimana kekacauan yang ia ciptakan membuat mereka kian kesulitan membeli makanan," tulis Schumer di platform X pada Rabu, 25 Maret 2026.
Baca Juga: Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Melintas di Selat Hormuz
Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya harga bahan bakar setelah terjadinya gangguan di jalur distribusi energi global. Blokade de facto di Selat Hormuz disebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga tersebut.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kilang Minyak Terbesar di Amerika Serikat Terbakar
Eskalasi konflik tersebut berdampak pada terganggunya arus distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Akibatnya, ekspor dan produksi energi di wilayah tersebut ikut terpengaruh, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.
(Sumber: Antara)
Arsip foto- Orang-orang ikut serta dalam aksi protes dan pawai di Times Square pada Hari Al-Quds, untuk menentang perang gabungan AS-Israel terhadap Iran di New York, Amerika Serikat, pada 13 Maret 2026. ANTARA/Mostafa Bassim/Anadolu/pri. (Antara)