Houthi Buka Front Baru Serang Israel, Ancam Jalur Perdagangan Laut Merah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok Houthi berpartisipasi dalam unjuk rasa suku yang mendukung dimulainya kembali serangan terhadap kapal-kapal Israel, di Sanaa, Yaman, pada 11 Maret 2025. Kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok Houthi berpartisipasi dalam unjuk rasa suku yang mendukung dimulainya kembali serangan terhadap kapal-kapal Israel, di Sanaa, Yaman, pada 11 Maret 2025. (Antara)

Ntvnews.id, Yaman - Kelompok Houthi di Yaman membuka babak baru konflik kawasan setelah meluncurkan serangan ke Israel pada Sabtu, 28 Maret 2026. Langkah ini dinilai berpotensi mengguncang stabilitas regional sekaligus mengganggu jalur perdagangan global.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu, 1 April 2026, Houthi merupakan kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa. Sejak 2014, mereka terlibat dalam perang saudara melawan pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.

Kelompok ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan dukungan dari Iran, Houthi memiliki kemampuan menyerang target di luar wilayah Yaman dan diduga memperoleh pelatihan militer.

Dalam konflik sebelumnya, termasuk perang di Gaza, Houthi telah menargetkan kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Aksi tersebut memaksa kapal-kapal mengubah rute pelayaran dan meningkatkan biaya logistik global.

Baca Juga: Bantu Iran Perang Lawan Amerika-Israel, Houthi Ancam Tutup Laut Merah

Keunggulan strategis Houthi terletak pada posisi geografis mereka di kawasan pegunungan dekat Laut Merah. Dari wilayah ini, mereka mampu mengganggu jalur pelayaran menggunakan drone dan rudal.

Laut Merah sendiri menangani sekitar 15 persen perdagangan maritim dunia dan menjadi jalur penting penghubung Eropa dan Asia. Pada puncak konflik sebelumnya, serangan Houthi memaksa kapal menghindari Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit menuju Terusan Suez.

Gangguan yang berlanjut berpotensi memperburuk situasi, terlebih ketika Selat Hormuz juga tengah berada dalam tekanan. Kondisi ini dapat menghambat aliran energi global dari dua sisi kawasan.

Dari sisi pasar energi, para analis memperkirakan harga minyak dapat naik antara 5 hingga 10 dolar AS per barel jika jalur Bab el-Mandeb terganggu. Pengalaman sebelumnya pada 2024 menunjukkan aliran minyak menurun dan biaya pengiriman melonjak akibat perubahan rute kapal.

Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)

Keterlibatan Houthi dalam konflik ini dinilai tidak lepas dari hubungan erat mereka dengan Iran. Meski sempat memberi sinyal tanpa bertindak langsung, kelompok ini akhirnya meluncurkan serangan menggunakan rudal jelajah dan drone.

Seorang analis menyebut, “Mereka mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlibat, tetapi pada akhirnya harus membalas dukungan Iran.”

Baca Juga: Houthi Klaim Luncurkan Serangan Drone ke Israel, Bandara Ramon Ditutup

Sejauh ini, Houthi dinilai masih menguji batas eskalasi. Serangan difokuskan pada target Israel tanpa langsung menyasar jalur pelayaran utama atau aset militer Amerika Serikat.

Meski mendapat dukungan Iran, kelompok ini tetap mempertimbangkan risiko strategis. Keterlibatan lebih jauh dapat memicu serangan balasan dari Amerika Serikat atau Israel, di tengah kondisi ekonomi Yaman yang memburuk.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar setengah populasi Yaman saat ini menghadapi kerawanan pangan akut, yang menjadi faktor penting dalam menentukan langkah Houthi ke depan.

x|close