Bank Dunia Nilai Fiskal Indonesia Masih Kuat Meski BBM Subsidi Tak Naik hingga 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Apr 2026, 13:17
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (ketiga dari kanan) menghadiri Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA/Bayu Saputra.) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (ketiga dari kanan) menghadiri Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA/Bayu Saputra.) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki ruang fiskal yang cukup, meskipun pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir 2026 di tengah kenaikan harga minyak global akibat konflik internasional.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menjelaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih tergolong sehat.

Ia menyebutkan bahwa defisit fiskal pada 2025 berada di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara rasio utang pemerintah sekitar 40 persen dari PDB.

Baca Juga: Tahan Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Instruksi Langsung Presiden!

“Indonesia menunjukkan kecenderungan pada kehati-hatian fiskal, sehingga relatif memiliki kapasitas untuk tetap memberikan dukungan melalui subsidi energi, baik secara implisit maupun eksplisit,” ujarnya dalam wawancara daring dari Jakarta, Rabu 8 Maret 2026.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok menengah rentan.

Selain itu, dukungan juga dinilai perlu menyasar pelaku usaha kecil hingga sebagian usaha menengah agar tekanan ekonomi tidak semakin berat.

Menurutnya, pemerintah perlu memperbaiki mekanisme distribusi subsidi agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh pihak yang membutuhkan tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.

“Semakin tepat sasaran dukungan, semakin kecil risiko terhadap beban fiskal,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.

Pemerintah, kata dia, telah menghitung ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak dunia, termasuk skenario harga mencapai 80 hingga 100 dolar AS per barel.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki cadangan dana yang cukup untuk mengantisipasi tekanan tersebut, salah satunya melalui dana sisa anggaran lebih (SAL) yang mencapai Rp420 triliun, termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di sektor perbankan.

Selain itu, terdapat pula sumber pendanaan lain seperti penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral yang dapat menjadi penopang subsidi.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Harga BBM Subsidi Tetap Dijaga untuk Rakyat Kecil

“Jadi, (BBM) yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Jadi, masyarakat di luar enggak usah ribut, enggak usah takut, kami sudah hitung,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin, 6 April 2026.

Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen.

Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang berada di level 4,2 persen.

(Sumber: Antara)

x|close