BMKG Waspadai Potensi El Nino 2026, Risiko Kekeringan dan Karhutla Meningkat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Apr 2026, 12:32
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberikan keterangan dalam konferensi pers terkait gempa bumi-potensi tsunami di Maluku Utara-Sulawesi Utara di Jakarta, Kamis (2/4/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo/pri. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberikan keterangan dalam konferensi pers terkait gempa bumi-potensi tsunami di Maluku Utara-Sulawesi Utara di Jakarta, Kamis (2/4/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo/pri. (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi perkembangan fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada paruh kedua tahun 2026.

Peluang terjadinya fenomena ini diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 80 persen, yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa saat ini kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral.

Meski demikian, tanda-tanda menuju penguatan El Nino mulai terlihat dan perlu diantisipasi karena dapat memperburuk kondisi musim kemarau.

Baca Juga: Pemerintah: Cadangan Beras Sentuh Level Tertinggi Hari Ini, Siap Hadapi El Nino

BMKG juga mencatat kemungkinan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, dengan kondisi iklim tahun 2026 secara umum diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal.

ENSO sendiri merupakan fenomena iklim global yang ditandai perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di Samudra Pasifik tropis.

Fenomena ini terdiri atas tiga fase utama, yakni El Nino (pemanasan), La Nina (pendinginan), dan netral, yang berpengaruh terhadap pola cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi El Nino, Indonesia umumnya mengalami penurunan curah hujan yang berdampak pada meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan.

BMKG mencatat hingga awal April 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia telah mencapai 1.601 titik, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Faisal merinci potensi karhutla diperkirakan mulai meningkat di wilayah Riau pada Juni 2026, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, serta berlanjut ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus 2026.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Antisipasi Penyakit Akibat El Nino

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus memperkuat upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), khususnya dengan metode pembasahan lahan (rewetting) di daerah rawan gambut.

"Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar," kata dia.

BMKG juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor, baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk mengantisipasi peningkatan risiko karhutla seiring perkembangan kondisi iklim ke depan.

(Sumber: Antara)

x|close