Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi melanjutkan serangan terbatas terhadap Iran, selain kebijakan blokade angkatan laut di Selat Hormuz yang telah diumumkan sebelumnya.
Mengutip laporan The Wall Street Journal yang bersumber dari pihak-pihak terkait, opsi serangan kembali terhadap Iran masih berada dalam pertimbangan Trump, bahkan beberapa jam setelah pembicaraan antara kedua negara berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Minggu, 12 April 2026.
Selain skenario serangan terbatas, Trump juga disebut membuka kemungkinan untuk melakukan serangan bom dalam skala besar. Namun, langkah tersebut dinilai kecil kemungkinan akan diambil, mengingat potensi meningkatnya ketegangan di kawasan serta keengganan Trump untuk terlibat dalam konflik militer yang berkepanjangan.
Baca Juga: Trump Ancam China Tarif 50 Persen Jika Terbukti Kirim Bantuan Militer ke Iran
Sementara itu, perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang dimulai pada Sabtu, 11 April 2026 belum membuahkan hasil. Dialog tersebut berlangsung setelah Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pada Minggu pagi, 12 April 2026, Wakil Presiden AS J.D. Vance menyampaikan bahwa kedua pihak belum mencapai kesepakatan.
Dari pihak Iran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menyebutkan bahwa sebenarnya terdapat sejumlah titik temu dalam pembahasan. Meski demikian, masih ada perbedaan pandangan antara kedua negara pada beberapa isu penting.
Baca Juga: Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan Nuklir dengan Iran Buntu
Di tengah situasi tersebut, Trump kemudian mengumumkan rencana pemblokiran seluruh kapal yang keluar-masuk Selat Hormuz. Ia juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memantau serta mencegat kapal-kapal yang melakukan pembayaran kepada Iran untuk melintasi jalur tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) turut menegaskan komitmennya untuk menjalankan kebijakan tersebut dengan memulai blokade terhadap lalu lintas maritim dari dan menuju pelabuhan Iran pada Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.
(Sumber: Antara)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa) (Antara)