Ntvnews.id, Washington D.C - Direktur anggaran Gedung Putih Russell Vought menolak memberikan rincian perkiraan biaya agresi Amerika Serikat terhadap Iran kepada para anggota parlemen. Ia beralasan bahwa angka pengeluaran masih terus berubah sehingga sulit untuk dihitung secara pasti, sebagaimana dilaporkan sejumlah media di AS.
"Saya tidak ingin membuat karakterisasi tentang hal itu pada saat ini," katanya ketika ditanya tentang laporan bahwa konflik tersebut mungkin telah menelan biaya puluhan miliar dolar, sebagaimana dilansir dari Reuters, Sabtu, 18 April 2026.
Sejumlah senator memperkirakan biaya perang tersebut bisa mencapai hingga USD10 miliar per minggu. Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan pengajuan tambahan anggaran pertahanan untuk mendukung operasi militer yang berlangsung.
Namun, sikap tertutup tersebut menuai kritik. Sejumlah pihak menilai pejabat pemerintah berupaya "menyembunyikan" besarnya pengeluaran di tengah meningkatnya utang nasional Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran Buka Total Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Turun Tajam
Sementara itu, Direktur Eksekutif International Energy Agency Fatih Birol mengingatkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di sektor militer, tetapi juga pada pasar energi global. Ia menyebut "pasar meremehkan konsekuensi dari penutupan yang berkepanjangan" Selat Hormuz, yang berpotensi mendorong lonjakan harga energi.
Birol mengungkapkan bahwa hingga kini belum ada pengiriman baru minyak, gas, maupun bahan bakar ke pasar Asia, sehingga mulai muncul kesenjangan pasokan. Ia juga menekankan bahwa negara-negara berkembang berisiko mengalami dampak paling berat akibat keterbatasan sumber daya keuangan dan lemahnya nilai mata uang.
Lebih lanjut, ia memperingatkan potensi kelangkaan produk olahan seperti minyak tanah dan solar jika pasokan minyak mentah tidak dapat sampai ke kilang. Kondisi ini dapat memicu gangguan penerbangan, pembatalan jadwal, serta menghambat aktivitas industri di berbagai negara.
Masyarakat berunjuk rasa sebagai protes atas serangan AS-Israe terhadap Iran di pusat Kota London, Inggris, Sabtu (21/3/2026). (ANTARA/Xinhua/Li Ying) (Antara)