Ntvnews.id, Tel Aviv - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer telah diperintahkan untuk mengerahkan kekuatan penuh di Lebanon, termasuk selama masa gencatan senjata, jika menghadapi ancaman terhadap pasukan mereka.
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya telah menginstruksikan IDF untuk bertindak dengan kekuatan penuh, baik di darat maupun dari udara, termasuk selama gencatan senjata, untuk melindungi tentara kami di Lebanon dari ancaman apa pun," kata Katz dalam sebuah acara di Tepi Barat yang diduduki dilansir dari AFP, Senin, 20 April 2026.
Ia juga menyebut bahwa militer diperintahkan untuk menghancurkan infrastruktur seperti bangunan atau jalan yang dipasangi ranjau dan berpotensi membahayakan pasukan. Langkah tersebut, menurutnya, bertujuan "untuk menghancurkan rumah-rumah di desa-desa dekat perbatasan yang berfungsi sebagai pos teror Hizbullah dan mengancam komunitas Israel," tambah Katz.
Sebelumnya, seorang tentara Israel dilaporkan tewas di Lebanon selatan pada Jumat, 17 April 2026 bertepatan dengan hari pertama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. Insiden terjadi ketika prajurit tersebut memasuki bangunan yang telah dipasangi bahan peledak, menurut laporan militer.
Baca Juga: Pemimpin Eropa Sambut Gencatan Senjata Israel-Lebanon
Katz berulang kali menegaskan bahwa Israel akan menghancurkan rumah-rumah di wilayah perbatasan sebagai bagian dari upaya membentuk zona keamanan di Lebanon selatan.
Pada Sabtu, 28 April 2026, pasukan Israel juga dilaporkan melakukan penghancuran di kota Bint Jbeil, yang sebelumnya menjadi lokasi pertempuran sengit dengan kelompok Hizbullah sebelum tercapainya kesepakatan gencatan senjata.
"Tujuan utama kampanye di Lebanon adalah pelucutan senjata Hizbullah dan penghapusan ancaman terhadap komunitas di utara, melalui kombinasi tindakan militer dan diplomatik," kata Katz.
Foto kondisi bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (9/3/2026). ANTARA FOTO/ Xinhua/Bilal Jawich/tom. (Antara)
"Jika pemerintah Lebanon terus gagal memenuhi kewajibannya--IDF akan melakukannya melalui aksi militer yang berkelanjutan."
Lebanon mulai terseret dalam konflik kawasan Timur Tengah pada awal Maret setelah Hizbullah yang didukung Teheran meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Israel kemudian merespons dengan serangan besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon serta melakukan invasi ke bagian selatan negara tersebut.
Ilustrasi gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) (Antara)