Ilmuwan China Berhasil Kembangkan Kloning Yak Skala Besar, 10 Anak Yak Lahir Alami

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Apr 2026, 13:40
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Para staf memeriksa seekor yak hasil kloning di pusat penangkaran yak di Kabupaten Damxung, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, 11 Juli 2025. (ANTARA/Xinhua/Jigme Dorje) Para staf memeriksa seekor yak hasil kloning di pusat penangkaran yak di Kabupaten Damxung, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, 11 Juli 2025. (ANTARA/Xinhua/Jigme Dorje) (Antara)

Ntvnews.id, Lhasa klon Para ilmuwan di China mengumumkan capaian baru dalam pengembangan teknologi kloning yak, setelah berhasil menghasilkan 10 anak yak yang lahir secara alami di Daerah Otonom Xizang, wilayah barat daya negara tersebut. Keberhasilan ini dinilai sebagai langkah maju dalam penerapan teknologi kloning pada hewan dataran tinggi.

Anak-anak yak yang terdiri dari tiga ekor berwarna hitam dan tujuh ekor berwarna putih itu dilahirkan dalam rentang waktu 25 Maret hingga 5 April di pusat penelitian dan penangkaran yak di Damxung, Xizang. Seluruhnya dinyatakan memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan dan terus menunjukkan pertumbuhan bobot yang stabil.

"Ini menunjukkan teknologi tersebut telah beralih dari kesuksesan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil," kata Fang Shengguo, yang memimpin tim peneliti dari Zhejiang University, dalam konferensi pers di wilayah tersebut, Selasa, 28 April 2026.

Baca Juga: Juara Olimpiade Sains, Bocah Asal Bandung Diundang NASA

Keberhasilan ini melanjutkan pencapaian sebelumnya, yakni kelahiran yak kloning pertama pada Juli 2025 yang tumbuh sehat dan kini memiliki bobot sekitar 183 kilogram. Yak (Bos grunniens) sendiri merupakan hewan khas dataran tinggi Himalaya dan Tibet yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Sebagai hewan endemik di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, yak menjadi sumber utama penghidupan bagi komunitas penggembala sekaligus bagian penting dari ekosistem wilayah tersebut. Hewan ini memiliki adaptasi biologis khusus untuk bertahan di lingkungan dengan kadar oksigen rendah serta paparan radiasi ultraviolet yang tinggi.

Proyek penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara lembaga biologi dataran tinggi, pemerintah wilayah Damxung, serta Universitas Zhejiang. Teknologi yang digunakan mencakup seleksi genom menyeluruh dan metode kloning sel somatik untuk menghasilkan individu dengan kualitas genetik unggul.

Baca Juga: Kemenhut dan BMKG Perkuat Kolaborasi Cegah Karhutla Berbasis Sains

Selain mendorong inovasi ilmiah, pengembangan teknologi ini juga diharapkan mampu mengatasi berbagai tantangan dalam peternakan yak, seperti lambatnya siklus pemuliaan dan penurunan kualitas genetik.

"Teknologi kloning baru ini mengatasi tantangan lama seperti siklus pemuliaan genetik yang lambat dan penurunan kualitas yak, serta berfungsi sebagai sarana strategis yang mengintegrasikan inovasi ilmiah, mata pencaharian lokal, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan ekologis, sekaligus mendorong transformasi daerah tersebut menuju pertanian dataran tinggi modern dan berkualitas tinggi," kata Fang.

(Sumber: Antara)

x|close