Ntvnews.id, Kyiv - Pengadilan di Kyiv, Ukraina, memutuskan menahan mantan ajudan utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Andriy Yermak, dalam kasus dugaan korupsi bernilai besar yang kembali mengguncang lingkaran elite pemerintahan negara tersebut.
Dilansir dari AFP, Jumat, 15 Mei 2026, majelis hakim menjatuhkan penahanan selama 60 hari terhadap Yermak sambil menunggu proses penyidikan berlangsung. Ia diberi opsi pembebasan dengan membayar uang jaminan sebesar 140 juta hryvnia atau sekitar US$3,2 juta.
Jaksa menuding Yermak terlibat dalam praktik pencucian uang dalam proyek pembangunan kawasan hunian mewah di luar Kyiv.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya tidak siap menghadapi ini," kata Yermak setelah mendengar putusan hakim.
Baca Juga: RI Hadirkan Narasi Maritim Nusantara Abad ke-15 di Panggung Internasional
Meski demikian, Yermak mengaku berharap mendapat bantuan dari kerabat dan koleganya untuk memenuhi nilai jaminan tersebut.
"Saya pikir saya punya cukup banyak kenalan dan teman. Saya berharap mereka bisa membantu," ujarnya.
Yermak membantah seluruh dakwaan yang diarahkan kepadanya dan menegaskan bakal mengajukan banding atas keputusan pengadilan tersebut.
Saat hadir di ruang sidang dengan mengenakan setelan jas lengkap serta pin bendera Ukraina, ia menegaskan tidak memiliki niat melarikan diri dari proses hukum.
"Saya tetap pada posisi saya. Saya akan terus melawan. Saya akan tetap berada di Ukraina. Saya tidak punya apa pun untuk disembunyikan," katanya.
Ilustrasi Penjara
Ketika ditanya mengenai kesiapan mental menghadapi kemungkinan mendekam di penjara, Yermak mengaitkannya dengan situasi awal invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
"Sebagai seseorang yang tetap berada di Kyiv, di kantor presiden pada 24 Februari 2022, ketika banyak orang mengatakan Kyiv akan jatuh dalam hitungan jam atau hari, saya adalah orang yang cukup kuat," ujarnya.
Sebelum mundur dari jabatannya pada November tahun lalu, Yermak dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Ukraina dan kerap disebut sebagai figur terkuat kedua setelah Presiden Zelensky.
Baca Juga: Taget KAI Tutup 40 Perlintasan Liar pada 2026
Di tengah perang Rusia-Ukraina, Yermak disebut memiliki pengaruh besar terhadap akses ke Presiden Zelensky serta menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan strategis pemerintahan.
Sejumlah media internasional juga pernah melaporkan bahwa Yermak dan Zelensky sempat tinggal di bunker bawah tanah di bawah kantor presiden saat intensitas serangan udara Rusia meningkat.
Kasus ini menambah tekanan terhadap pemerintahan Zelensky yang belakangan menghadapi sorotan akibat berbagai dugaan korupsi di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia.
Hingga kini, Presiden Zelensky belum memberikan pernyataan resmi terkait proses hukum yang menjerat mantan orang dekatnya tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)