China Ubah Penulisan Nama Menlu AS agar Bisa Dampingi Trump ke Beijing

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Mei 2026, 17:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump berbicara sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperhatikan selama konferensi pers setelah serangan AS di Venezuela, tempat Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap, dari klub Mar-a-Lago milik Tr Presiden AS Donald Trump berbicara sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperhatikan selama konferensi pers setelah serangan AS di Venezuela, tempat Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap, dari klub Mar-a-Lago milik Tr (CNA)

Ntvnews.id, Beijing - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, ikut mendampingi Presiden AS, Donald Trump, dalam kunjungan bersejarah ke Beijing, China. Rubio, yang sebelumnya masuk daftar sanksi China, dilaporkan dapat memasuki negara tersebut setelah penulisan namanya diubah.

Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 15 Mei 2026, Rubio dikenal vokal mengkritik isu hak asasi manusia di China saat masih menjabat senator. Sikap kerasnya itu membuat Beijing menjatuhkan sanksi terhadap dirinya sebanyak dua kali.

Pemerintah China menyatakan tidak akan menghalangi Rubio, yang kini berusia 54 tahun, untuk datang ke China untuk pertama kalinya. Beijing menegaskan sanksi tersebut berkaitan dengan sikap dan tindakannya ketika masih menjadi senator AS.

"Sanksi tersebut menargetkan ucapan dan perbuatan Bapak Rubio ketika dia menjabat sebagai senator AS terkait China," ujar juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu.

China disebut menemukan solusi diplomatik setelah Trump menunjuk Rubio sebagai Menteri Luar Negeri sekaligus penasihat keamanan nasional. Menjelang pelantikannya pada Januari 2025, pemerintah dan media resmi China mulai menggunakan karakter Mandarin berbeda untuk suku kata pertama nama keluarga Rubio, yakni “Lu”.

Baca Juga: Jepang Pantau Pertemuan Trump-Xi di Tengah Kekhawatiran soal Taiwan

Perubahan transliterasi nama itu dinilai menjadi celah diplomatik yang memungkinkan Beijing menerima kedatangan Rubio tanpa secara resmi mencabut sanksi terhadapnya. Dengan demikian, China tetap dapat mempertahankan status sanksi tersebut untuk situasi lain.

Perbedaan penulisan nama Rubio juga terlihat pada papan nama di ruang pertemuan. Nama Rubio tertulis sebagai “Lu Bi’ao” menggunakan karakter berbeda dibanding saat China mengumumkan sanksi kepadanya pada 2020. Meski pengucapannya hampir serupa, bentuk huruf yang digunakan tampak berbeda secara jelas.

Dua diplomat meyakini langkah tersebut merupakan cara cepat bagi China untuk menghindari penerapan sanksi larangan masuk terhadap Rubio dengan ejaan lamanya. Sementara itu, pejabat Departemen Luar Negeri AS hanya memastikan bahwa Rubio ikut bepergian bersama Trump.

Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China, di Gedung Agung Rakyat di Beijing, ibu kota China, Kamis 14 Mei 2026. /ANTARA/Xinhua/Ding Lin/aa. <b>(Antara)</b> Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke China, di Gedung Agung Rakyat di Beijing, ibu kota China, Kamis 14 Mei 2026. /ANTARA/Xinhua/Ding Lin/aa. (Antara)

Sorotan terhadap Rubio juga muncul setelah Gedung Putih merilis foto dirinya di Air Force One mengenakan pakaian olahraga Nike. Busana tersebut disebut mirip dengan yang pernah dikenakan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, ketika ditangkap pasukan AS.

Rubio sendiri merupakan politikus keturunan Kuba-Amerika yang dikenal keras menentang komunisme. Ia juga menjadi salah satu penggagas utama undang-undang Kongres AS yang menjatuhkan sanksi luas terhadap China terkait dugaan kerja paksa terhadap minoritas Muslim Uyghur.

Tuduhan tersebut telah dibantah tegas oleh Beijing. Rubio juga selama ini lantang mengkritik tindakan keras pemerintah China di Hong Kong.

Dalam sidang konfirmasinya sebagai Menteri Luar Negeri, Rubio banyak menyoroti China yang disebutnya sebagai ancaman global baru bagi Amerika Serikat. Namun setelah menjabat, ia mendukung pendekatan Trump yang menggambarkan Presiden China, Xi Jinping, sebagai teman serta lebih menitikberatkan hubungan perdagangan dibanding isu hak asasi manusia.

x|close