AHY Ungkap Dua Prioritas Pemerintah Hadapi Ancaman El Nino

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Jul 2026, 16:02
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan dua fokus utama pemerintah dalam mengantisipasi dampak fenomena El Nino. Hal tersebut disampaikannya sebelum menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Negara, Selasa, 28 Juli 2026.

AHY menjelaskan rapat tersebut secara khusus membahas langkah-langkah menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat El Nino yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

"Jadi tentu kita harus mengantisipasi paling tidak dua isu utama. Yang pertama adalah kekurangan air, kekeringan, ketika terjadi El Nino apalagi dengan status yang kuat misalnya, maka kita harus memastikan air kita cukup," kata AHY.

Menurutnya, pemerintah akan memastikan pengelolaan sumber daya air dilakukan secara optimal agar pasokan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, ketersediaan air juga harus mampu mendukung sistem irigasi sehingga produktivitas pertanian tidak terganggu.

Baca Juga: Survei SMRC: 61 Persen Warga Tak Puas Pelaksanaan MBG

AHY menambahkan, apabila diperlukan pemerintah akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan operasi modifikasi cuaca guna menjaga ketersediaan air di waduk maupun danau.

"Kemudian tentunya selain itu kita harus mengantisipasi jika memang sangat diperlukan, tentu kita berkoordinasi dengan BMKG misalnya untuk melakukan operasi modifikasi cuaca untuk memastikan waduk-waduk kita debit airnya tetap dalam kondisi yang aman, termasuk danau," tuturnya.

Selain persoalan ketersediaan air, pemerintah juga memberikan perhatian besar terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat selama periode El Nino.

AHY mengatakan pemerintah akan berupaya mengendalikan munculnya titik-titik api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga kelembapan lahan gambut sebagai upaya mitigasi.

"Tanah lahan gambut itu juga harus tetap dalam kondisi yang basah. Ini untuk memitigasi potensi kebakaran hutan," jelasnya.

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis disertai perubahan pola angin. Fenomena ini bergantian dengan La Nina dalam siklus yang umumnya berlangsung setiap dua hingga tujuh tahun.

Episode El Nino terakhir terjadi pada 2023–2024. Sementara itu, fase terbaru mulai berkembang sejak Juni 2026 setelah sebelumnya diproyeksikan oleh para ahli meteorologi.

Bagi Indonesia, El Nino biasanya menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta berpotensi mengganggu ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, dan meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi apabila intensitas El Nino kali ini mencapai tingkat yang diperkirakan.

x|close