Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ada Syaratnya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Sep 2026, 10:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di wilayah utara Oman Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di wilayah utara Oman (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Iran disebut bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang ditutup sejak konflik antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) pada Februari lalu.

Jalur pelayaran penting tersebut dikabarkan akan dibuka dalam waktu tujuh hari dengan sejumlah persyaratan. Informasi itu disampaikan seorang pejabat Iran kepada media Jepang, Kyodo News.

"Iran sudah menawarkan untuk membuka Selat Hormuz dalam tujuh hari jika Amerika Serikat mengambil inisiatif awal untuk mengurangi tekanan militer," kata pejabat tersebut kepada media itu, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 23 September 2026.

Menurutnya, proposal tersebut telah disampaikan kepada pemerintah AS melalui pihak mediator.

"[Proposal] tersebut menyerukan dimulainya kembali pembicaraan yang bertujuan mengakhiri permusuhan antara kedua negara secara permanen," ungkap pejabat itu.

Pejabat tersebut mengatakan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Namun, dia membantah adanya kemungkinan pertemuan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

Baca Juga: Iran Klaim Tangkap Kapal Selam Nirawak AS di Selat Hormuz

Selat Hormuz hingga kini masih ditutup sebagai dampak perang yang disebut dimulai AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Kondisi tersebut turut berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak serta terganggunya pasokan energi.

Konflik antara AS dan Iran juga masih berlangsung hingga saat ini. Kedua pihak dilaporkan masih terlibat dalam serangkaian serangan, terutama di kawasan sekitar Selat Hormuz.

Padahal, AS dan Iran sebelumnya sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang ditujukan untuk mengakhiri konflik.

Namun, menurut laporan tersebut, kesepakatan itu kemudian kembali menghadapi pelanggaran yang dilakukan AS secara berulang.

TERKINI

Load More
x|close