Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Dilansir dari DW, Selasa, 20 Oktober 2026, Sejumlah survei menunjukkan bahwa Netanyahu maupun kubu oposisi diperkirakan menghadapi tantangan untuk memperoleh 61 kursi parlemen, jumlah minimum yang diperlukan guna membentuk koalisi pemerintahan.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu menjelang pemungutan suara tersebut.
"Pernyataan ini menjadi bukti dukungan penuh dan tanpa syarat saya kepada Bibi Netanyahu," tulis Trump.
Trump menyebut Netanyahu sebagai "perdana menteri pejuang" dan memuji perannya dalam perang melawan Iran.
"BIBI NETANYAHU TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN KALIAN!" tulis Trump.
Netanyahu merespons dukungan tersebut dengan menyampaikan apresiasi kepada Trump atas bantuan yang diberikan kepada Israel.
Baca Juga: BGN Berhentikan Pelaku Kekerasan di KPPG Bogor
"Bersama-sama, kita akan menuntaskan misi ini," tulis Netanyahu melalui akun X miliknya, merujuk pada kerja sama kedua negara dalam perang melawan Iran.
Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat berpotensi harus menghadapi perang Iran tanpa dukungan Netanyahu apabila pemimpin Israel itu tidak kembali terpilih. Ia menyinggung seruan kematian terhadap AS dan Israel yang kerap terdengar dalam kegiatan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kedua negara tersebut juga kerap disebut sebagai "Setan besar dan kecil".
"Jika Israel dipimpin oleh orang yang salah, siapa pun selain Bibi (Netanyahu), Amerika harus menangani perang ini sendiri. Saya tidak berminat melakukannya," kata Trump.
Meski demikian, pengaruh dukungan Trump terhadap hasil pemilu Israel belum dapat dipastikan. Walaupun Trump memiliki popularitas di Israel, sebagian masyarakat negara tersebut menyatakan kekecewaan terhadap hasil perang melawan Iran yang dinilai belum menunjukkan kejelasan.
Usulan gencatan senjata yang diajukan Trump juga dinilai belum memenuhi sejumlah tujuan utama yang ingin dicapai kedua negara sejak konflik dimulai.
Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026. Konflik tersebut berdampak pada jalur distribusi energi global setelah Teheran memblokir sebagian pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Gadi Eisenkot, salah satu pesaing utama Netanyahu, menanggapi pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa penentuan pemimpin Israel merupakan hak rakyat negara tersebut.
Dalam sebuah acara di Tel Aviv, Eisenkot mengakui "kontribusi besar" Trump terhadap keamanan Israel.
"Namun, Israel adalah negara demokratis," ujarnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah AS harus bersedia bekerja sama dengan pemerintahan mana pun yang nantinya dipilih oleh masyarakat Israel.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)
Dukungan Trump bukan kali pertama dimanfaatkan Netanyahu untuk memperkuat citra internasionalnya menjelang pemilu. Pada 2019, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu memasang baliho bergambar dirinya berjabat tangan dengan Trump, yang saat itu menjalani periode pertama sebagai presiden AS.
Baliho tersebut juga menampilkan Netanyahu bersama Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam materi kampanye itu, Netanyahu digambarkan sebagai pemimpin dengan "level yang berbeda".
Netanyahu tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel. Namun, masyarakat Israel terbelah dalam menilai kepemimpinannya, terutama terkait peran pemerintah dan koalisi sayap kanan dalam mengantisipasi serangan Hamas beserta kelompok afiliasinya dari Jalur Gaza pada 7 Oktober. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.
Netanyahu menolak pembentukan komisi penyelidikan negara yang memiliki kewenangan memeriksa berbagai dokumen pemerintah dan memanggil pejabat politik untuk memberikan kesaksian.
Sebagai gantinya, ia mengusulkan pembentukan komisi dengan akses yang lebih terbatas terhadap dokumen rahasia serta tanpa kewenangan memaksa politisi dan pejabat tinggi negara untuk memberikan keterangan.
Perang Israel di Jalur Gaza setelah serangan 7 Oktober juga menjadi persoalan penting menjelang pemilu. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 74.000 warga Palestina.
Sejak perang dimulai, Netanyahu berulang kali menjanjikan "kemenangan total". Namun, kelompok oposisi menilai target tersebut belum tercapai karena Hamas masih menguasai sejumlah wilayah di Jalur Gaza.
Netanyahu bersama mitra koalisinya juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan "migrasi sukarela" warga Gaza dan penguatan kendali Israel di Tepi Barat. Kebijakan terkait wilayah pendudukan tersebut terus menuai perdebatan, sementara pendudukan Israel di wilayah Palestina dinilai ilegal menurut hukum internasional.
Selain konflik regional, sejumlah isu domestik turut menjadi perhatian dalam pemilu Israel, termasuk kewajiban dinas militer bagi pria muda Yahudi ultra-Ortodoks, kenaikan biaya hidup, serta posisi Israel dalam hubungan internasional.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Xinhua/Media Resmi Pemerintah Israel/am. (Antara)