Warga Iran Diliputi Ketakutan, Sulit Tidur di Tengah Ketegangan Konflik dengan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Feb 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi konflik Iran vs Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)) Ilustrasi konflik Iran vs Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)) (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Seorang warga Teheran bernama Hamid mengaku kesulitan tidur akibat kekhawatiran terhadap konflik yang kembali memanas di ibu kota Iran, menyusul perang 12 hari dengan Israel pada tahun lalu.

"Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat," kata Hamid kepada AFP, sebagaiman dikutip Senin, 23 Februari 2026.

Ia juga menyampaikan kecemasannya terhadap keselamatan keluarganya, termasuk anak-anak dan cucu-cucunya.

Diketahui, Teheran sempat diguncang ledakan pada malam 12 hingga 13 Juni tahun lalu, ketika Israel musuh utama Iran melancarkan operasi militer besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serangan tersebut memicu aksi balasan antara kedua negara.

Serangan itu mendorong Iran melakukan respons berupa serangan drone dan rudal, yang menyebabkan ribuan korban jiwa di Iran dan puluhan orang tewas di Israel.

Baca Juga: Waspadai Serangan Iran, Amerika Tambah Pasukan di Timur Tengah

Saat ini, Iran kembali melanjutkan dialog dengan Amerika Serikat, dengan Teheran menegaskan pembahasan hanya difokuskan pada isu nuklir. Sebelumnya, Washington juga mendorong agar program rudal balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional turut dibahas. Namun, hasil perundingan tersebut masih belum menemui kepastian.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Iran tidak mencapai kesepakatan dalam 10 hari, yang kemudian diperpanjang menjadi 15 hari.

Dalam situasi tersebut, Hamid kembali mengungkapkan kecemasan terhadap masa depan anak-anak dan cucu-cucunya.

"Saya telah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum melakukan hal baik apa pun dalam hidup mereka, mereka tidak bersenang-senang, tidak nyaman, tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki kedamaian," katanya.

Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py <b>(Antara)</b> Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

"Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu."

Warga Teheran lainnya juga merasakan ketakutan serupa. Hanieh, seorang pengrajin keramik berusia 31 tahun, memperkirakan perang bisa terjadi "dalam 10 hari". Ia telah menyiapkan persediaan kebutuhan pokok di rumah untuk menghadapi kemungkinan serangan militer AS seiring peningkatan kehadiran militernya di kawasan tersebut.

"Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir," katanya kepada AFP.

"Kami harus pergi ke kota lain," tambahnya.

Baca Juga: AS Siap Serang Iran Akhir Pekan, Keputusan Tergantung Perintah Trump

Sementara itu, warga lainnya Mina Ahmadvand (46) juga meyakini konflik baru akan segera pecah.

"Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu," kata teknisi IT itu kepada AFP.

"Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta beberapa bungkus biskuit, air minum kemasan, dan beberapa baterai tambahan, di antara barang-barang lainnya."

x|close