Pertamina Gandeng BGN Kembangkan Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Mei 2026, 13:46
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Pertamina Gandeng BGN Kembangkan Bahan Bakar Pesawat Rendah Emisi dari Minyak Jelantah Pertamina Gandeng BGN Kembangkan Bahan Bakar Pesawat Rendah Emisi dari Minyak Jelantah (Pertamina)

Ntvnews.id, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengembangkan energi berkelanjutan berbasis limbah domestik. Melalui kolaborasi tersebut, minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat rendah emisi.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, sekaligus target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui konsep ekonomi sirkular.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah saat ini menjadi salah satu program penyediaan makanan bergizi terbesar di dunia dengan sekitar 61,99 juta penerima manfaat.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk pembangunan bangsa.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Borong Penghargaan Transparansi Emisi 2026

“Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa, membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera,” ujar Dadan.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri

menyebut kerja sama antara Pertamina dan BGN menjadi pertemuan dua sektor strategis nasional, yakni pangan dan energi.

“Sebagaimana tertuang dalam Misi ke-2 Asta Cita, kita didorong untuk membangun kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan. Hari ini, kita melihat bagaimana dua sektor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” ujar Simon pada kegiatan penandatanganan kerja sama Pertamina dan BGN di Jakarta.

Simon menjelaskan, minyak jelantah yang sebelumnya dianggap limbah dan berpotensi mencemari lingkungan kini akan dimanfaatkan sebagai sumber energi baru yang bernilai ekonomi.

Baca Juga: BGN dan BPOM Perkuat Pengawasan Keamanan Pangan Program MBG

“Dari puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil (UCO) yang sebelumnya dianggap limbah, bahkan sering menjadi sumber pencemaran lingkungan. Hari ini, kita ubah perspektif itu. Kita jadikan limbah sebagai sumber daya. Kita jadikan masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy dan di sinilah peran Pertamina menjadi penting,” tambah Simon.

Program pengumpulan minyak jelantah nantinya dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect. Minyak jelantah yang terkumpul akan digunakan sebagai bahan baku produksi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan biogasoline.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pertamina dalam memperkuat bisnis rendah karbon.

“Kolaborasi strategis ini menjadi langkah Pertamina dalam memperkuat portofolio bisnis rendah karbon melalui pemanfaatan limbah domestik sebagai sumber energi masa depan,” ujar Agung.

Baca Juga: Pertamina Imbau Reset QR Code BBM Subsidi untuk Cegah Penyalahgunaan

Ia menyebut minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi salah satu bahan baku paling efisien untuk menghasilkan SAF dan HVO karena memiliki profil emisi yang rendah.

“Mengapa Pertamina sangat membutuhkan UCO, jawabannya jelas, demi keberlanjutan bisnis dan kepatuhan terhadap standar dekarbonisasi global,” kata Agung.

“Melalui penahapan yang terukur, Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1% hingga 5% pada 2030 sesuai amanat Pemerintah melalui Kepmen ESDM No. 113/2026,” tambah Agung.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung agenda strategis nasional di bidang ketahanan pangan, ketahanan energi, serta hilirisasi industri, sekaligus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik.

x|close