Ntvnews.id, Jakarta - Badan Gizi Nasional menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar mendukung pengembangan energi hijau dan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan minyak jelantah. Potensi tersebut diperkirakan mencapai sekitar enam juta liter minyak jelantah setiap bulan dari operasional satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan setiap SPPG diperkirakan menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah per bulan. Dengan jumlah SPPG yang saat ini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, jumlah limbah minyak goreng yang dihasilkan sangat besar.
“Jadi, kalau dikalikan 500 liter itu kurang lebih akan ada sekitar 6 juta liter per bulan,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026.
Baca Juga: Belanja Negara dan Program MBG Perkuat Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen di Triwukan I 2026
Menurut Dadan, penggunaan minyak goreng di setiap SPPG rata-rata mencapai 800 liter per bulan dan sebagian besar akan berubah menjadi minyak jelantah setelah digunakan dalam proses memasak.
“Di luar dugaan saya, setiap SPPG ini menggunakan kurang lebih 800 liter minyak goreng setiap bulan, dimana 70 persennya akan berakhir menjadi minyak jelantah,” ujar Dadan.
Ia menegaskan penggunaan minyak goreng di lingkungan SPPG dibatasi untuk menjaga kualitas makanan bagi penerima manfaat Program MBG.
“Perlu diketahui bahwa di BGN minyak tidak boleh sering digunakan, maksimal rata-rata tiga kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” ucap Dadan.
Baca Juga: BGN dan BPOM Perkuat Pengawasan Keamanan Pangan Program MBG
Selain memanfaatkan minyak jelantah, BGN juga mulai mendorong penggunaan energi alternatif di lingkungan operasional SPPG melalui jaringan gas alam dan Compressed Natural Gas (CNG) di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat sistem energi yang lebih bersih dan efisien sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
“Saya kira ini bisa menjadi langkah awal untuk program kerja sama kita, sehingga minyak yang tadinya sampah menjadi bernilai, yang tadinya dibuang, menjadi uang,” tuturnya.
(Sumber: Antara)
Kepala BGN Dadan Hindayana (empat dari kanan) dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Kamis (7/5/2026), terkait pemanfaatan minyak jelantah sebagai bagian dari pengembangan energi alternatif dan sistem energi rendah karbon di Indonesia. ANTARA/HO-BGN (Antara)