Intelijen Australia Peringatkan Ancaman Teror Iran, Ada Apa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Jun 2026, 05:38
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Canbera - Direktur Jenderal Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO), Mike Burgess, mengeluarkan peringatan terkait potensi ancaman teror yang berasal dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran.

Peringatan tersebut muncul setelah ASIO menemukan indikasi adanya rencana serangan bom molotov berskala besar di Sydney.

Burgess mengungkapkan bahwa pihaknya memperoleh informasi mengenai seorang warga negara Australia yang tinggal di Iran dan diketahui merupakan anggota senior Garda Revolusi Iran. Individu tersebut diduga merancang aksi teror yang menargetkan wilayah Australia. Selain itu, ASIO juga mengkhawatirkan kemungkinan kelompok-kelompok pro-Iran yang aktif di Eropa melakukan serangan lanjutan di Australia.

Dalam pidatonya di Canberra, Burgess menyebut lembaganya menemukan keterkaitan unsur-unsur Iran dengan sejumlah aksi teror yang terjadi di Australia sepanjang 2024.

"Orang ini adalah agen senior Pasukan Quds IRGC, yang menjalankan jaringannya di seluruh dunia," kata Burgess, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 25 Juni 2026.

Ia menjelaskan bahwa mantan warga negara Australia yang kini tinggal di Irak namun bekerja untuk kepentingan Iran diduga menjadi dalang di balik serangan bom molotov terhadap Sinagoge Adass Israel di Melbourne tahun lalu. Menyusul insiden tersebut, Australia mengambil langkah diplomatik dengan mengusir Duta Besar Iran.

Baca Juga: Iran Sebut Selat Hormuz Sudah Terbuka Penuh untuk Kapal Dagang

Pada Januari lalu, seorang tokoh kriminal Australia berhasil ditangkap setelah adanya koordinasi dan tekanan dari aparat penegak hukum Australia serta Irak.

"Iran merekrutnya melalui jaringan kompleks kelompok milisi yang berbasis di Irak. Karena menghargai kekayaan dan koneksi kriminalnya yang tinggi, IRGC melindunginya dan mendukung usaha ilegalnya," kata Burgess.

Menurutnya, Iran masih memandang Australia sebagai salah satu sasaran potensial dan berpeluang "melakukan atau menginspirasi tindakan pembakaran, vandalisme, atau bahkan pembunuhan di tanah Australia".

Burgess juga menyinggung serangan di Pantai Bondi yang diduga melibatkan seorang ayah dan anak. Meski mengejutkan publik, peristiwa tersebut dinilai tidak sepenuhnya di luar dugaan jika melihat kondisi keamanan global dan domestik yang terus memburuk.

Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel (Antara)

Lebih lanjut, ASIO mengungkapkan telah berhasil menggagalkan 31 rencana aksi teror besar sejak 2014. Namun, pola ancaman kini semakin rumit karena proses radikalisasi banyak terjadi melalui ruang obrolan daring, bukan lagi di tempat-tempat ibadah. Proses tersebut juga berlangsung lebih cepat dan melibatkan individu dengan usia yang semakin muda.

Kondisi itu, menurut Burgess, menjadi tantangan baru bagi aparat keamanan Australia dalam mengantisipasi ancaman terorisme yang terus berkembang seiring perubahan dinamika global dan kemajuan teknologi komunikasi.

x|close