Ntvnews.id, Madrid - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyerukan perlunya reformasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar lembaga tersebut mampu mencerminkan dinamika dunia di abad ke-21.
Dalam pidatonya di Barcelona, dalam forum “Dalam Pembelaan Demokrasi,” Sanchez menyoroti meningkatnya tantangan terhadap multilateralisme, hukum internasional, serta institusi demokrasi.
Ia menilai pembaruan perlu dilakukan agar PBB dapat “beradaptasi dengan realitas abad ke-21 dan memimpin sistem multilateral yang lebih efisien, transparan, demokratis, inklusif, dan representatif.”
Selain itu, Sanchez juga menyampaikan bahwa PBB sebaiknya dipimpin oleh seorang perempuan. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya berkaitan dengan keadilan, tetapi juga menyangkut kredibilitas organisasi global tersebut.
“Sudah saatnya beralih dari komitmen ke tindakan,” ujarnya, dikutip dari Antara, Senin, 20 April 2026.
Baca Juga: Presiden Brasil Lula Kritik Keras Trump, Soroti Ancaman terhadap Kedaulatan dan Desak Reformasi PBB
Lebih jauh, Sanchez mengingatkan bahwa demokrasi saat ini menghadapi tekanan serius, baik dari faktor internal maupun eksternal. “Ada bahaya bahwa demokrasi menjadi kosong dari dalam sementara diserang dari luar,” katanya.
Ia menekankan bahwa respons terhadap situasi ini tidak cukup hanya bersifat defensif.
“Kita harus mengusulkan, memimpin, dan menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkuat dan ditingkatkan dari hari ke hari,” tambahnya.
PBB (Istimewa)
Sanchez juga menyoroti pentingnya regulasi yang lebih tegas terhadap media sosial, dengan mengingatkan dampak disinformasi terhadap ruang publik. Ia menegaskan bahwa algoritma tidak seharusnya mendorong penyebaran “kebencian, polarisasi, konfrontasi, atau pesan-pesan kekerasan.”
Meskipun mengakui bahwa teknologi memiliki potensi besar dalam mendorong kemajuan, Sanchez menilai tanpa pengaturan yang memadai, teknologi justru bisa memperdalam perpecahan sosial serta meningkatkan ketergantungan masyarakat.
PM Spanyol Pedro Sanchez. (BBC)