Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, menegaskan urgensi penguatan ketahanan nasional sebagai fondasi utama dalam menopang ketahanan kawasan maupun global saat menyampaikan pandangan Indonesia dalam pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri G20 yang dihelat di Atlanta, Amerika Serikat.
Dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Jakarta, Ahad (01/11), ditekankan bahwa aspek ketahanan nasional, regional, dan internasional merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan erat sehingga menuntut adanya komitmen kerja sama multilateral yang efektif.
“Ketahanan nasional memperkuat ketahanan kawasan, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan global,” demikian pesan utama yang disuarakan oleh Arrmanatha dalam rangkaian forum yang berlangsung pada 30–31 Oktober tersebut.
Selama pertemuan tingkat tinggi di bawah kepresidenan Amerika Serikat ini, Menlu Arrmanatha tercatat mengikuti tiga sesi pleno utama yang berfokus pada isu geopolitik, sektor energi, serta stabilitas rantai pasok global.
Pada sesi pleno pembahasan isu geopolitik, Menlu RI menyoroti dampak destruktif dari berbagai konflik antarnegara yang dirasakan secara langsung oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagai solusi, Indonesia menyerukan kepada seluruh pihak untuk secara aktif melakukan deeskalasi konflik, mengutamakan jalur diplomasi dan dialog, serta merajut kerja sama yang konstruktif.
Selain itu, Indonesia juga kembali menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 sebagai instrumen hukum internasional yang esensial dalam menjamin kepastian kebebasan navigasi.
Beranjak ke sesi pleno bidang energi, Arrmanatha menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan pilar fundamental dari ketahanan nasional. Komitmen tersebut dibuktikan langkah nyata Indonesia dalam mengakselerasi transisi energi bersih dan berkelanjutan melalui implementasi program pencampuran biodiesel B50 serta proyek ambisius pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW).
“Krisis harus mempercepat transisi energi, bukan justru membalikkannya,” tegas Menlu RI.
Sementara itu, dalam sesi pleno yang mengupas tuntas rantai pasok global, Indonesia menggarisbawahi pentingnya menjaga kepastian arus logistik internasional sekaligus mengawal penguatan sistem perdagangan multilateral. Guna mendukung stabilitas tersebut, Arrmanatha mengusulkan peningkatan sistem kesiapsiagaan global serta akses terhadap instrumen pembiayaan jangka panjang dengan skema biaya yang terjangkau.
Ia juga memandang perlunya diversifikasi pusat produksi rantai pasok global agar lebih berpusat di negara-negara berkembang, sehingga kerja sama alih teknologi dapat terjalin secara lebih adil dan merata.
Di sela-sela kesibukannya mengikuti rangkaian sesi pleno G20, Menlu Arrmanatha juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menggelar sejumlah pertemuan bilateral penting bersama para menteri luar negeri dari berbagai negara sahabat, di antaranya Turkiye, Rusia, Inggris, Kanada, dan Arab Saudi.
Adapun rangkaian pertemuan tingkat menteri luar negeri G20 di Atlanta ini merupakan bagian dari tahapan penting menuju puncak Presidensi G20 Amerika Serikat, yang rencananya akan ditandai dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Miami pada Desember 2026 mendatang.
(Sumber: Antara)
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Arrmanatha Nasir menghadiri sesi pleno pada pertemuan tingkat Menlu G20 di Atlanta, Amerika Serikat, pada 30--31 Oktober 2026. (Antara)